Ketika saya memimpin pelayanan bagi para ibu dari anak-anak balita, kami mencari sebuah gambaran yang dapat mewakili beratnya tugas para ibu sehari-hari: mengganti popok, membersihkan ingus, membereskan mainan. Lalu kami menemukannya dalam sebuah kotak jus yang sudah kosong dan penyok. Demikianlah perasaan para ibu: terkuras dan hampa. Pelayanan kami hadir untuk menolong mereka berjumpa dengan Yesus, Sumber air hidup yang sanggup memenuhi kembali semangat mereka.
Apakah Anda pernah merasa seperti penipu? Jika ya, Anda tidak sendiri! Di akhir dekade 1970-an, dua peneliti menyebut “sindrom penipu” sebagai sebuah kondisi ketika seseorang meragukan keahlian, bakat, atau kemampuannya sendiri dan menganggap dirinya sendiri sebagai penipu. Orang-orang yang sukses dan cemerlang sekalipun bisa bergumul dengan perasaan tidak layak. Mereka khawatir apabila orang melihat lebih jauh ke dalam kehidupan mereka, mereka akan dapat melihat betapa banyak yang sebenarnya tidak mereka ketahui.
Ketika jari manis saya terluka, saya memperkirakan sakitnya akan berlangsung berbulan-bulan sebelum jari saya dapat berfungsi kembali seperti sediakala. Namun, saat saya melakukan latihan yang dianjurkan, jari kelingking di sebelahnya mulai terasa berdenyut, jadi saya pun berkonsultasi dengan dokter. “Itu rasa sakit karena simpati,” katanya. Percabangan antara saraf jari manis dan kelingking menyebabkan ketergantungan satu sama lain. Jika satu jari terasa sakit, maka jari lainnya juga akan merasakan sakit sebagai rasa simpati.
Sekelompok arsitek lanskap meneliti dampak dari pemasangan pagar di sekeliling arena bermain dari sebuah taman kanak-kanak. Di dalam arena bermain yang tidak dipagar, anak-anak cenderung enggan untuk berkeliaran dan memilih bergerombol dekat bangunan sekolah atau di dekat guru mereka. Namun, di dalam arena bermain yang berpagar, mereka dapat menikmati area tersebut secara menyeluruh. Para peneliti itu menyimpulkan bahwa batasan ternyata dapat menciptakan rasa kebebasan yang lebih besar. Fakta ini tampaknya bertolak belakang dengan pemikiran kebanyakan orang yang menganggap bahwa batasan akan mengurangi kesenangan. Namun sebaliknya, pagar justru dapat memberikan kebebasan!
Lisa dan Freddie McMillan memiliki restoran unik di Brewton, Alabama. Mereka menyajikan makanan yang baru dimasak secara cuma-cuma kepada siapa pun yang mengantre. Pasangan ini telah menggunakan tabungan pribadi mereka untuk menolong para lansia yang sering kelaparan dan jarang makan di restoran. Mereka membuka kotak donasi untuk menerima sumbangan. Lisa berkata, ”Adakalanya tidak ada apa pun di dalamnya. Sesekali ada ucapan terima kasih. Di lain waktu, kami menerima 1.000 dolar. Namun, kami selalu memiliki yang kami perlukan. Kami ingin berbagi makanan dengan mereka yang lapar, memulihkan martabat mereka, dan menguatkan komunitas.”
Setelah saya bergabung dengan dewan pengawas sebuah seminari, sang presiden yang sudah lama menjabat mengumumkan pengunduran dirinya. Saya dan beberapa orang ditugaskan untuk mencari presiden baru. Bersama-sama, kami menyusun daftar kualifikasi yang sangat menggentarkan hati. Kami berpikir, bagaimana kami akan menemukan seseorang yang memenuhi peranan yang sedemikian rumit dan penting itu?
Bert meletakkan kartu debitnya di atas lembar tagihan restoran. Saat hendak mengambilnya, si pelayan restoran sempat bertanya, “Tunggu, siapa yang berkata, ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup’ ini? Sombong sekali orang itu!” Bert menyadari bahwa pelayan tersebut bereaksi terhadap kalimat yang tercetak pada kartu nama perusahaan keuangan Kristen yang dimilikinya, yakni ucapan Yesus di Yohanes 14:6. Karena tertarik mendengar tanggapan pelayan itu, Bert kemudian menjelaskan identitas dari “orang itu” juga pengorbanan-Nya yang membawa kita kembali kepada Allah.
Di dalam film animasi Toy Story, mainan seorang anak menjadi hidup setiap kali si anak meninggalkan ruangan atau sedang tidur. Salah seorang karakter, polisi luar angkasa bernama Buzz Lightyear, sering menunjukkan kemampuannya terbang mengelilingi kamar tidur seraya meneriakkan ungkapan khasnya: “To infinity and beyond!” (harfiah: “Menuju yang tak terhingga dan lebih jauh lagi!”)
Setelah keluarga kami mengadakan ibadah untuk mengenang almarhum ayah saya di tepi sungai, kami masing-masing memilih sebuah batu untuk membantu kami mengingat beliau. Kehidupannya penuh dengan kemenangan dan kekalahan silih berganti, tetapi kami tahu hatinya sangat mengasihi kami. Saat jari-jari saya mengusap permukaan batu pilihan saya yang halus, saya ditolong untuk memegang erat kenangan tentang beliau.